Seharusnya hari ini ada canda di ruangan ini, ada adu argumen, ada teriakan’menurut aku seperti ini lho Bu..’ Namun, sore ini beda. Bu atik dosen AkBi PelKes ku, berhalangan hadir. Supaya tidak terjadi kekosongan pembelajaran beliau meminta seseorang untuk meggantikan beliau mengajar kami di kelas. Aku sedikit kecewa. Karena yang aku tunggu dari kelas Akbi ini adalah semangat Ibu Atik mengarahkan kami para calon manager RS agar benar-benar mampu bertindak sebagai Manajer dengan mempelajari Akuntansi Biaya ini. aku suka dengan itu. Bu Atik seolah melemparku pada ketinggian tertinggi dunia, dimana di sana aku melihat kursi seorang Manager RS, dimana di atas mejanya ada sebuah papan panjang bertuliskan namaku “LILI NUR INDAH SARI”, suatu hal yang bukan muluk-muluk bagiku ketika aku menyimak Bu Atik menerangkan pelajaran. Sekali lagi kutegaskan, hari ini beda.
Ruangan kelas mulai ricuh ketika sang dosen pengganti yang berpenampilan casual memperkenalkan dirinya. Namanya Agus ....., aku lupa nama lengkapnya. Dia memulai pelajaran dengan menghadiahi kami segenap pertanyaan serupa Kuis mengenai pelajaran minggu lalu. sedikit membuat kelas jadi membisu. Tidak ada gelak apalagi canda. Dia lempar satu pertanyaan, dibalas dengan satu jawaban pula. Hingga akhirnya dia memulai bab baru. Ditengah pelajaran aku baru menyadari bahwasanya Aku sungguh bingung dengan segenap istilah-istilah yang dia ucapkan dalam menjelaskan suatu kasus. Semua terdengar seperti bahasa planet olehku. DRG, Obgyn, NICU dan masih banyak lainnya. Aku bingung. Bukan mengenai materi yang dia sampaikan. Aku bingung, kenapa dia tidak berani menjelaskan makna dan definisi awam mengenai sederetan istilah-istilah yang dikomunikasikannya itu. At least, seseorang akhirnya melakukan interupsi di tengah kehangatan pembelajaran. “pak, kami bukannya kurang mengerti dengan istilah-istilah yang bapak pakai,, kami benar-benar tidak mengerti pak, apa itu maksudnya?”, si bapak Dosen Pengganti menyunggingkan sedikit simpulnya-sedikit kaget- sembari berucap next slide kepada asdos yang notabenenya sang operator sore itu.
“oh, maaf. Apakah telah terjadi kesenjangan informasi?” Dosen itu bertutur memandang kepada kita sekalian.
Aku ciut mendengar istilah kesenjangan informasi itu, dia pikir kami-mahasiswa yang melongo mendengarkan ceramahnya-adalah sekumpulan orang-orang pedalaman yang beranjak ke kota untuk menuntut ilmu kesmas? Tidak. Kalaupun iya, mungkin hanya aku. Teman-temanku yang lain masih banyak kok yang asli Jakarta. Tentunya akses informasi ibukota sangat cepat.
“kalian harus paham dengan istilah-istilah yang saya sebutkan di atas, kalau kalian memang pengen bekerja di rumah sakit. Teringat perkataan teman saya kepada saya zaman dulu, FKM di rumah sakit mau ngapain, ngobatin pasien ga bisa, ngerawat apalagi. Kalian tahu jawaban saya ‘kita-anak FKM- yang akan memanage Rumah sakit ini. itu harus bener –bener kalian tanamkan dalam hati kalian, makanya mulai sekarang harus mulai mempelajari sedikit demi sedikit istilah yang lazim di Rumah Sakit, bisa-bisa nanti pekerjaan yang seharusnya menjadi milik kalian diambil sama pihak lain, yang kalau dilihat dari segi kualitas mungkin kalian lebih baik. Saya ini dulu juga lulusan FKMUI, S1 AKK FKM, S2 MARS, dan sekarang saya sudah berhasil menjadi salah satu konsultan salah satu RS ternama di Jakarta. Untuk itu, kalian harus benar-benar memahami akuntansi biaya ini, karena akan jadi modal untuk ilmu dan pembelajaran2 kedepannya.”
Aku hanya bisa terdiam kaku, bisu mendengar penjelasan sang dosen pengganti itu, sebelumnya Bu Atik belum pernah memberikan pemaparan dan tamparan sejauh dan seperti itu kepada kami. aku salut bercampur takut. Aku kalut, di tengah kebahagiaanku yang akhirnya melejit ke atas permukaan, hari ini aku menemukan salah satu Sarjana S1 FKM yang berhasil menjadi konsultan RS., aku yakin masih banyak lagi di luar sana. Dan Aku YAKIN aku akan menjadi salah satunya, yang terbaik dan mampu lebih dari itu.
Mungkin itulah perbedaan terbesar yang kurasakan di kelas Pak Agus (dosen yang menggantikan Bu Atik), bahwa harapan akan mimpi itu menjadi nyata dan berada di depan mata itu ada. Pak Agus-lah yang membocorkan rahasianya. Aku harus belajar lebih banyak lagi, berusaha mendalami ilmu manajemen RS sedalam-dalamnya. Esok, aku bukan-lah lulusan MRS FKMUI yang biasa-biasa saja, aku dapat diperhitungkan. Aku LILI NUR INDAH SARI, suatu hari nanti, tiga atau empat tahun dari sekarang akan memanage sebuah rumah sakit terbaik di Jakarta, karena saat itu aku adalah seorang MANAGER RUMAH SAKIT. Amiin ya Rabb.
maaf, baru sekarang aku berani lantang berucap aku cinta FKMUI. selama ini mungkin orang hanya tahu kalau aku cinta UI, aku bangga menjadi bagian dari keluarga besar UI. tapi apakah hal itu berlaku sama pada FKMUI?- kampus tempat aku menimba ilmu sekarang ini-. jawabannya tentu tidak. Aku berani bertaruh bahwa perasaan mendalam akan kecintaanku pada FKMUI baru bermunculan beberapa hari terakhir. sekali lagi maafkan aku FKMUI.
mungkin kalian akan bertanya kenapa? aku pun tidak mengerti seutuhnya, apa yang sebenarnya terjadi pada diriku satu tahun belakangan ini. aku hanya bangga dengan jaket almamater kuning UI, namun ketika ditanya apa warna makara-mu, aku menciut. aku tak mengerti. hal ini tentu sangat kontras dengan anak-anak ui lainnya, yang dengan sangat bangga menonjolkan warna makara kampus mereka masing-masing. ada apa denganku? itu yang selalu aku tanyakan pada diriku sendiri. berkali-kali. hingga akhirnya kemarin -Jumat 8 Oktober- aku pun menemukan jawabannya.
sebelumnya aku ingin bercerita sedikit mengenai AKU satu tahun yang lalu.
kenapa aku dulu tidak bangga menunjukkan makara unguku di depan teman-temanku yang lain dari berbagai fakultas? jawabannya, aku merasa akan keliatan paling bodoh jika sok-sok an menunjukkan makara unguku didepan makara abu-abu, orange apalagi hijau. dalam pikiranku mereka PASTI jauh lebih pintar dariku. aku menciut. MALU.
kenapa dulu aku selalu lari dari kumpulan teman-teman berlainan fakultas ketika topik pembicaraan mereka mengarah pada keunggulan fakultas mereka masing-masing? jawabannya, aku bingung. apa yang harus aku ceritakan kepada mereka tentang fakultasku. siapa alumni fakultasku yang beken?, ntar abis kuliah mau jadi apa? kerja dimana? FKM klo magang di mana sih? eh, kalian di FKM belajar apa sih sebenernya(?). aku bingung. aku dengan pasti tidak mengetahui jawaban atas sederetan pertanyaan-pertanyaan tersebut. aku tidak mengenalmu FKM.
kenapa dulu aku sempat berniat meninggalkanmu FKM? aku ingin sekali ikut tes SIMAK UI lagi, mencoba keberuntunganku menembus FK UI, jawaban, karena orang-orang disekitarku juga menginginkan hal yang sama. hampir setiap orang yang kutemui menaruh kecewa setelah masuk FKMUI. seolah terjebak ke lubang buaya, dengan mencoba ikut SIMAK UI lagi mereka bertutur bahwa itulah cara terbaik untuk mengubah takdir,, oh bukan salah,, tapi mengusahakan takdir yang LEBIH baik. dan aku pun bertanya, seberapa buruk sih FKMUI, sehingga banyak diantara mereka yang ingin beranjak pergi.?jawabanya, aku tidak tahu.
kenapa dulu aku selalu menutup kuping, ketika pembicaraan orang-orang disekitarku berbicara mengenai pergerakan mahasiswa? jawabannya, karena aku tahu kampus ku penyumbang massa tebanyak ketika berbicara aksi. alasannya? aku tidak tahu. yang aku sadari, aku tidak menyukai langkah aksi/turun ke jalan kalo hanya untuk memprotes kelakuan pemerintah.
kenapa dulu aku ragu kedepannya mau jadi apa? ntar aku kerjanya dimana? dalam posisi sebagai apa? berapa gajiku? siapa kawan kerjaku? aku meragukan masa depanku, kenapa?jawabanya, FKMUI tidak menyuguhiku dengan transparansi data mengenai alumni-alumni yang telah bekerja di berbagai tempat dan posisi. semuanya terdengar gamblang dan arut-arutan bagiku. aku KECEWA. mereka mematahkan impianku, semangat belajarku pun berangsur-angsur pudar bersama kekecewa-kecewaanku yang lain. oh FKMUI
kenapa? kenapa? mungkin akan masih banyak kenapa yang lain. kekecewaan, kegelisahan akan masa depan yang buram, keirian, perasaan malu bertabur ragu. aku MUAK. aku kecewa pada pilihanku sendiri. FKMUI.
namun diluar pertanyaan tentang AKU di tahun 2009, pertanyaan besarnya adalah kenapa sekarang AKU cinta FKMUI?
karena MU teman...
FKMUI
dia menempaku dengan segenap pertanyaan diatas beserta jawabanya. dan detik ini dia pula yang membuatku menggerakkan jemariku di atas panel keyboard bahwa AKU CINTA FKMUI.
FKMUI
mengajarkanku arti CINTA
cinta itu proses, cinta itu pembelajaran, cinta itu kesabaran dan cinta itu, bagaimana kau mencintai itu sendiri.
FKMUI
membekaliku dengan ketabahan
mungkin mereka bisa bilang ntar klo udah lulus bisa hjadi menteri. bagiku FKMUI akan menjanjikan yang lebih indah dari itu semua. kuping ku sekarang udah kebal mendengar celotehan klo lulusan FKMUI itu ntar kayak pulang kampung, kerjanya di desa, SO WHAT? itu ucapku sekarang.
FKMUI
menyinari kegelapan hatiku dengan senyum persaudaraan
mungkin mereka bilang FKM UI itu pesantrennya UI, jilbaber semua ceweknya, trus cowoknya cuma ada dikit.(ngomong dengan rautan senyum menyepelekan). klo dulu aku cuma diam dengan ucapan seperti itu karena merasa sedikit risih, mungkin sekarang aku akan menyela mereka dengan berkata "SYUKUR ALHAMDULILLAH" sebelum senyum sinis bak iblis itu menyungging di wajah mereka.
FKMUI
menghapuskan segala gundahku bahwa aku ada
Dulu aku kembali ciut ketika obrolan berawal dari pertanyaan kamu anak jurusan apa? Sekarang tidak akan lagi. Aku akan lantang menjawab AKU anak FKMUI.
Sungguh perjalanan dan proses cinta ini berlangsung lama. Satu tahun. Satu tahun dalam kegelisahan akan menjadi seperti apa. Satu tahun dalam kepungan kamu anak jursan mana? Satu tahun dalam perasaan kecewa kenapa aku harus memilih jurusan ini? satu tahun. Sungguh suatu perjalanan waktu yang panjang bagiku. Tapi tidak kusesali. Karena FKMUI telah menyisipkan benih ke dalam tubuhku ‘bahwa aku tidak boleh menyesal atas apa yang telah aku lakukan, yang boleh itu adalah lakukan perbaikan dari kesalahan tersebut, sebuah evaluasi untuk cerminan diri’.
Dan jika ditanya peristiwa besar apa yang membawa ku ke titik ini, titik dimana seluruh energi tubuhku membara ketika FKMUI diteriakkan. -Aku cinta FKMUI- maka jawabannya adalah OIMUI. Banyak pelajaran yang kuambil dari perhelatan keilmuwan terbesar UI tahun ini. berani aku berucap bahwa bukan karena FKMUI dapat peringkat empat dalam OIM UI tahun ini. ataupun bukan karena FKMUI telah mengalahkan Fasilkom atau FK sekalipun. Bukan teman, sungguh BUKAN itu alasannya. Satu yang aku yakini bahwa FKMUI, kampusku- adalah kampus yang diisi oleh orang-orang yang tidak hanya cerdas secara intelektual, namun juga cerdas emosional dan terlebih spiritual.
Kampusku adalah kampus tempatnya orang-orang rendah hati dan berjiwa besar, tidak ada iri, dengki apalagi dendam. Kampusku hanya ingin menjalin persahabatan. Dikala kamus lain bersiku satu sama lain, saling menjatuhkan melalui arogansi yel-yel dan saling memekik untuk memecah gedung meneriakkan bahwa mereka adalah juaranya. Mereka-fakultas itu- melupakan apa hakikat pertandingan atau Olimpiade Ilmiah Mahasiswa ini diselenggarakan. Apakah hanya untuk mencari fakultas mana yang juara? Fakultas mana yang paling pintar, dan fakultas mana yang akan mengantongi uang jutaan rupiah plus piala bergilir OIM? Aku yakin FKMUI tidak memandang keberlangsungan OIM hanya sebatas untuk mendapatkan itu semua. Bagi FKMUI, itu hanya nilai tambah. Yang utama itu adalah, FKMUI ingin selalu berupaya membenahi diri untuk mampu menampilkan yang terbaik, menjadi garda terdepan pergerakan keilmuan, dan itu sama sekali bukan berarti ingin menjadi ‘the number ONE’, sungguh FKMUI punya definisi sendiri mengenai apa itu JUARA. Aku belajar dari FKMUI, tentang hidup, dan bagaimana seharusnya kehidupan itu berlangsung dan dijalani. Senyum ramah, jiwa besar, rendah hati, pantang menyerah, bersahabat, jujur dan ikhlas, itu lah FKMUI yang aku kenali sekarang dan aku menCINTAi itu semua. Aku tidak bisa munak bahwa paradigma yang salah telah membentukku dalam mendefinisikan FKMUI dulunya. Aku salah, maafkan aku. Sekarang aku menyadari bahwa dahhulunya aku adalah sosok yang ingin terlihat pintar dan pandain di depan orang lain hanya karena warna makaranya. Aku hanya ingin dan akan bangga jika fakultasku diisi oleh dosen ternama. Aku benar-benar galau. Padahal hakikat sebenarnya aku menuntut ilmu adalah untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa dengan kekayaan ilmu tersebut. FKMUI telah mendewasakan ku dalam berpikir dan berprilaku. Terlepas dari pikiranku akan masa depan yang dijanjikan FKMUI nantinya. Aku TAHU, manjadda wa jada. FKM UI membekaliku dengan semangat itu. Seperti apapun masa depanku nantinya. Aku PERCAYA, bahwa ALLAH ALWAYS GIVE ME THE BEST, aku berusaha, berdoa dan aku akan menggenggam mimpi dan citaku. aku belajar untuk itu dari FKMUI tercinta.